Thursday, December 8, 2016

Bung Karno di Ende part 3 (Kisah Persahabatan)



Bung Karno dan Ibu Inggit (kiri) serta Kelimoetoe Toneel Club (kanan) 


            Awalnya, Pater P.G. Huijtink SVD menawarkan sebuah gedung di Biara St Josef Ende untuk digunakan Soekarno. Selanjutnya, Soekarno bergaul akrab dengan para misionaris setempat.
            Dalam pembuangannya di Ende, Soekarno dihindari oleh para pejabat Flores yang baru saja menjadi pegawai negeri; paling-paling baru 17 tahun setelah masuk menjadi tenaga administrasi Hindia Belanda pada tahun 1918, jadi baru satu generasi lebih. Pegawai negeri tertinggi adalah raja, yang menjadi kepala swapraja dengan pegawai- pegawainya yang berpusat di Ende. Di bawah raja, ada distrik yang dikepalai oleh kepala distrik; dan di bawahnya ada kampung-kampung yang dikepalai oleh seorang Kepala Kampung (tidak dikenal istilah “kepala desa”).
            Inilah kelompok pertama orang-orang Flores yang hidup dari gaji pegawai negeri. Inilah kelompok birokrat baru di sana. Dengan begitu karena dipropagandakan di Ende oleh pemerintah kolonial Belanda bahwa ada seorang “pemberontak” yang berhaluan “komunis” yaitu Ir Soekarno, tidak ada satu pun kaum atas pegawai negeri ini yang berani mendekati Soekarno.

            Kelompok bawah, yaitu para petani, pekerja tangan seperti tukang jahit, sopir, nelayan sama sekali tidak memahami apa artinya ada “orang pintar dari Jawa” yang dibuang/diasingkan di Ende. Mungkin sama sekali mereka tidak mengerti apa artinya penjajahan.
            Kelompok lain lagi adalah kelompok kaum misionaris yang terdiri dari imam/pastor Belanda yang berdiam di Biara St Josef dengan seluruh perlengkapan seperti rumah biara, ambachts school, sekolah dan pendidikan pertukangan. Para misionaris ini dikepalai oleh seorang provinsial, yang ketika Soekarno dibuang ke Ende dijabat oleh Pater Bouma SVD.
            Sedangkan Gereja Katolik sudah mulai membenahi diri dalam bentuk administrasi kegerejaan dan sudah mencapai vi­cariatus apostolicus, vikariat apostolik, yang berarti belum mencapai tingkat uskup, episcopus, yaitu uskup
sebenarnya. Pada waktu Soekarno dibuang ke Ende, vicarius apostolicus, yang sehari-hari dipanggil Bapa Uskup adalah Mgr Hendricus Leven SVD.

Kelimoetoe Toneel Club

            Karena semua menjauhinya, Soekarno bertekad membentuk masyarakatnya sendiri, yaitu apa yang dia sebut sebagai Kelimoetoe Toneel Club, kelompok pemain tonil, dan Soekarno sendiri yang menjadi direkturnya. Dalam urusan menghidupkan tonil inilah Soekarno akhirnya berkontak dengan para misionaris di Biara St Josef yang jaraknya tidak jauh dari rumah kontrakan Soekarno, mungkin hanya satu kilo jaraknya.
            Seperti sudah dikatakan di atas, Soekarno bertekad membentuk kelompok tonil karena Soekarno tidak tahan hidup sendirian tanpa pengikut seperti di Jawa. Setelah Kelimoetoe Toneel Club dibentuk dan latihan-latihan menghapal teks mulai dijalankan, barulah timbul kesulitan di mana drama itu dipentaskan.

            Di tengah kesulitan itulah, Soekarno yang mungkin sedang berjalan-jalan di Ende dan selalu bertongkat (komando) bertemu dengan Pater Huijtink SVD. Meski bertongkat komando, wajah Soekarno agak lesu, demikian cerita seorang saksi mata. Pater Huijtink bertanya apa yang menjadi soal. Pater Huijtink langsung menawarkan bahwa di St Josef ada gedung Immaculata yang jarang dipakai. Tawaran ini langsung diterima dan ini menjadi awal dari pergaulan Soekarno yang hampir tidak putus- putusnya dengan para misionaris di Biara St Josef, termasuk menjalankan diskusi-diskusi berat tentang bermacam hal dengan para misionaris itu (“lihat Soekarno, Misionaris, dan Pancasila”).

            Biara St Josef menjadi terbuka untuk Soekarno dan memang menjadi tempat inti bagi kegiatan-kegiatan intelektual Soekarno sebagai seorang seniman panggung. Soekarno sendiri menjadi seniman utuh. Dia sendiri menjadi penulis drama/tonil, menjadi sutradara untuk melatih para pemain yang kebanyakan tidak bersekolah. Kesulitan paling besar adalah bagaimana melatih seorang untuk “mati panggung”; bagaimana menahan napas supaya perut tidak turun naik di atas panggung.

            Selain menjadi sutradara, Soekarno sendiri menjadi pelukis banner iklan. Soekarno memerlukan tiang-tiang dan alat-alat panggung lain lagi yang sangat dibantu oleh Bruder Lambertus. Semuanya ini sangat dibantu oleh Sekolah Pertukangan St Josef. Ketika Soekarno membutuhkan cat selain yang dibeli sendiri, Keuskupan Ndona menyumbang cat berwarna-warni yang diperlukan.

            Huijtink, Pastor Paroki Ende Tokoh Pater Huijtink sangat menarik. Dialah yang pertama memberi bantuan kepada Soekarno, dan menjadi sahabat yang sangat dihormati Soekarno. Namun, persahabatan itu pulalah yang menarik perhatian pemerintah kolonial. Pemerintah memberi tugas kepada Pater Huijtink untuk “mengawasi” naskah-naskah drama Soekarno, dan kalau perlu “mengedit” naskah-naskah itu agar tidak terlalu jauh menyinggung kemerdekaan Indonesia dan lain-lain, yang akan dilaporkan sebagai kegiatan politik Soekarno dan pasti akan mendapat sanksi baru.
            Namun, sejauh penyelidikan penulis ini, hampir tidak ada bukti bahwa Pater Huijtink mengedit naskah-naskah drama Soekarno; semuanya dibiarkan begitu saja sejauh menyangkut kreativitas Bung Karno. Mungkin dari pihaknya, Soekarno sangat berhati-hati untuk tidak mempersulit mereka yang sudah sangat baik hati kepadanya.
            Karena itu, para pejabat pemerintah kolonial yang menjadi pelanggan tetap untuk nonton drama Soekarno selalu keluar Immaculata kalau ada adegan yang terlalu menyinggung pemerintah kolonial, dan masuk lagi kalau adegan berganti.

            Ketika dipindahkan dari Ende dan diberangkatkan ke Bengkulu, Maret 1938, menurut cerita, Pater Huijtink berkata kepada Soekarno: “Nanti kalau kita bertemu lagi, saya akan menjumpai Toean sebagai Presiden.”

            Kalau dengan studi kritis terhadap Islam, Soekarno merebut kembali posisi intelektual; dengan drama yang dipentaskannya Soekarno merebut kembali posisi sebagai aktivis; dan dalam diskusi-diskusi dengan para patres, digabung dengan renungannya sendiri di bawah pohon sukun yang terkenal itu, Soekarno menjadi ideolog negara, state ideologist, kalau bukan yang pertama, salah satu yang paling utama.

Balas Jasa Presiden

            Ketika pada tahun 1951 Presiden Soekarno mengunjungi Ende lagi yang mendarat dengan kapal amphibi Angkatan Laut, Paduka Yang Mulia Presiden Republik Indonesia berpidato di lapangan Ende. Dari atas podium di tengah pidatonya, Soekarno berkata, “Ketika saya berada di Ende tahun 1934 saya berkenalan dengan seorang pater yang bernama Huijtink. Adakah pater tersebut di antara saudara-saudara?” Pater Huijtink mengangkat tangannya, dan langsung dipanggil Soekarno ke podium. Soekarno berkata di depan umum, “Dulu, aku datang ke Ende sebagai tahanan dan orang buangan dan Pater Huijtink banyak sekali membantuku. Sekarang, aku kembali ke Ende sebagai presiden. Apa yang Pater Huijtink minta dari presiden?”
            Pater Huijtink menjawab tanpa ragu-ragu, “Tuan Presiden, saya tidak meminta apa pun yang lain. Saya hanya punya satu keinginan: menjadi warga negara Indonesia.” Soekarno langsung berkata, “Sejak saat ini saya sebagai Presiden Republik Indonesia memutuskan untuk memberikan kewarganegaraan kepada Pater Huijtink. Hal-hal yang menyangkut urusan administratif akan diatur di kemudian hari.”
            Pater Huijtink memang menjadi warga negara Indonesia dan mengabdikan hidupnya sebagai pastor di Ende, Flores, sampai ajal menjemputnya, dan dikuburkan di Flores.



No comments: