Saturday, September 15, 2018

PERANG MARILONGA









A. Kisah Mari Longa

Kita coba mengintip sedikit kisah Mari Longa dan perjuangannya. Mari Longa lahir di sebuah kampung di wilayah utara Lio. Nama kampung itu Watu Nggere. Kampung ini masuk dalam wilayah persekutuan adat Nida. Diperkirakan Mari Longa lahir sekitar tahun 1855, dari pasangan Longa Rowa dan Kemba Kore. Tahun kelahiran Mari Longa tidak pasti, karena tidak ada yang mencatat.


Waktu masih kecil, Longa Rowa member nama pada putra sulungnya itu Leba. Nama ini diambil dari nama sayuran pare (paria) yang rasanya pahit. Longa Rowa berharap anaknya kelak menjadi seorang pemberani, tidak takut pada siapapun dan apapun. Namun nama Leba ini seperti tidak cocok, sehingga Leba kecil selalu menangis dan sakit-sakitan. Longa menduga ada sesuatu yang tidak beres dengan anaknya itu. Suatu malam, Longa Rowa bermimpi agar dia mengganti nama anaknya dengan nama Mari. Mari nama jenis pohon yang kulitnya sangat pahit dan kayunya sangat keras.


Berdasarkan mimpi itu, Longa Rowa segera mengganti nama anaknya Leba dengan nama Mari. Penggantian dan perubahan nama dari Leba menjadi Mari dilakukan dalam suatu upacara adat. Sejak saat itu, Leba yang telah menjadi Mari itu tumbuh sehat dan kuat. Watak pemberani mulai nampak dalam hidup keseharian. Meski masih kecil, Longa selalu mengajak anaknya Mari kemanapun dia pergi, termasuk berburu di hutan. Dengan cara seperti ini longa mengajar dan mendidik anaknya Mari untuk selalu bergaul dan bersahabat dengan banyak orang. Sedangkan berburu, sebagai cara mendidik menggunakan senjata tajam seperti pedang (Sau/Sonda) serta busur panah (Wo’o dan Le’e). Longa juga mengajari anaknya beladiri silat serta ilmu-ilmu gaib lainnya.

      B. Mulai berperang


Mari Longa tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah perkasa. Di setiap kampung yang dia kunjungi bersama ayahnya, mereka selalu mengajari silat kepada pemuda di kampung itu. Dengan cara itu, Mari Longa memperlihatkan kebolehannya dalam bela diri dan menggunakan sejata tajam pedang dan tombak serta busur panah. Cerita tentang kebolehan Mari Longa mulai tersiar kemana-mana.


Suatu ketika, Mari Longa mengembara sampai di Mauria, sebuah kampung yang berbatasan dengan Mego Maumere. Waktu itu di Mauria ada perang antara orang Mauria melawan orang Mego. Orang-orang Mauria meminta bantuan Mari Longa untuk ikut berperang melawan orang Mego.. Perang itu akhirnya dimenangkan orang Mauria atas bantuan Mari Longa. Mari Longa mendapat banyak hadia, seperti emas, kuda, kerbau dan seorang gadis bernama Bela Bajo. Gadis ini dijadikan sebagai istri Mari Longa yang ke 7. Karena sebelumnya Mari Longa telah memiliki enam istri, seperti Nderu Ndoki, Kapi Mbipi, Fai Bilo, Weti Atu, Tidhu, Aru Atu.


Cerita tentang kebolehan Mari Longa semakin meluas. Bukan saja Mari Longa hebat dalam bela diri silat, tetapi, dia juga mampu berperang melawan orang Mego dan memenangkan peperangan itu. Karena itu, Mosa Laki Tana Ria, Longga Woda langsung mengundang Mari Longa dan anak buahnya membantu mereka berperang melawan orang Lise Lande. Perang inipun dimenangkan orang Tanaria, atas bantuan Mari Longa. Dari Tanaria, Mari Longa dan anak buahnya yang kebanyakan adik-adik dan ipar-iparnya diundang Mosa Lakiu Pa’o Pala dari Nua Pu. Perang ini dimenangkan orang Nua pu atas dukungan Mari Longa dan anak buahnya. Mosa Laki Ndondo juga minta bantuan Mari Longa dan anak buahnya berperang melawan Diko Lawi. Lagi-lagi Mari Longa memenangkan peperangan tersebut.


      C. Memantu Bhara Nuri


Kemenangan demi kemenangan yang diraih Mari Longa menjadi bahan cerita masyarakat di kampung – kampung di wilayah Lio. Cerita-cerita tersebut terdengar pula di telinga Bhara Nuri seorang Mosa Laki di Woloare Ende. Bhara Nuri kabarnya sudah beberapa kali berperang melawan raja Ende yang ingin mengusai wilayah Woloare, atas bujukan Belanda. Bahkan Bhara Nuri pernah ditangkap Belanda dan dibuang ke Kupang. Namun Bhara Nuri bisa melarikan diri. (Diceritakan di lain kesempatan).


Bhara Nuri kemudian meminta bantuan Mari Longa melalui Mosa Laki Saga. Mari Longa dan anak buahnya pun setuju. Perang melawan raja Ende yang dibantu Serdadu Belanda, akhirnya dimenangkan Bhara Nuri. Serdadu Belanda sangat heran atas kemenangan itu. Mereka menduga ada pihak lain yang ikut membantu Bhara Nuri yang saat itu sudah mengungsi ke Manunggo’o, karena Woloare sudah dikuasai serdadu Belanda. Dalam pertempuran itu, putri Mari Longa, Nduru Mari terkena tembangan serdadu Belanda di perutnya. Namun Nduru masih bisa diselamatkan setelah diobati ayahnya Mari Longa.


       D. Peperang melawan Belanda


Belakangan serdadu Belanda baru tahu kalau Bhara Nuri dibantu Mari Longa. Serdadu Belanda tentu sangat marah. Karena itu serdadu Belanda mencari cara untuk menangkap Mari Longa dan anak buahnya. Serdadu-serdadu Belanda di Ende meminta bantuan serdadu Belanda di Maumere untuk menangkap Mari Longa. Karena itu Serdadu Belanda di Maumere mencari Mari Longa dan anak buahnya dengan menyusuri perkampungan di pantai utara Maumere, mulai dari Magepanda, Kota Baru, Ndondo hingga ke Detuara, Rate Nggoji. Penduduk-penduduk kampung itu disiksa dan dibunuh. Mari Longa yang mendengar itu, marah. Mari Longa dan anak buahnya kemudian menghadang serdadu Belanda di Bhoasia. Pasukan Serdadu Belanda yang tidak mengusai medan Bhoasia, akhirnya dapat dikalahkan Mari Longa dan anak buahnya dengan mudah. Sebagian serdadu Belanda gugur di Bhoasia, sebagian lagi kembali ke Maumere meminta bala bantuan.


Setelah bantuan serdadu dari Kupang dan Jawa tiba di Maumere, para serdadu Belanda itu langsung menuju Ndondo untuk menyerang Mari Longa dan anak buahnya. Mari Longa mencoba melawan, namun kalah dalam persenjataan. Dia kemudian menyuruh anak buahnya bersembunyi di hutan. Sedangkan dirinya sengaja menyerah diri ke Serdadu Belanda. Mari Longa akhirnya dibawa ke Maumere dan dipenjara.


Mari Longa dipenjara hanya beberapa hari. Dia berhasil melarikan diri dan tiba kembali di Watu Nggere. Pembesar Belanda yang mengetahui Mari Longa melarikan diri dari penjara, kembali membentuk tim operasi penangkapan. Mereka mengutus kurir mengahadap Mari Longa. Kurir itu menyampaikan Belanda ingin berunding dengan Mari Longa. Tetapi Mari Longa menolak keinginan Belanda itu. Mari Longa tahu bahwa hal itu hanya siasat busuk untuk menangkap dan memenjarakan dirinya. Pembesar Belanda di Ende sangat marah mendengar penolakan Mari Longa itu. Serdadu Belanda dikirim ke Watu Nggere untuk menangkap Mari Longa. Namun Mari Longa menyambut pasukan Belanda dengan anak panah. Belasan serdadu Belanda tewas dalam penyerangan itu, dan sebagian kembali ke Ende.
Jadi Raja Watu Nggere. Setelah sukses membantu Bhara Nuri, Mari Longa dan anak buahnya, termasuk putrinya Nduru Mari, kembali ke Watu Nggere. Mari Longa yakin, serdadu Bhelada akan menambah jumlah pasukan lalu menyerang mereka di Watu Nggere. Dugaan Mari Longa tidak meleset. Melalui seorang kurir, (oleh Mari Longa dinilai sebagai penghianat) Belanda minta Mari Longa untuk berunding. Tetapi permintaan itu ditolak. Mari Longa sadar, bahwa itu hanya taktik busuk. Serdadu Belanda marah dan langsung mengerahkan pasukan menyerbu Watu Nggere. Mari Longa dan anak buahnya pun menyabut serbuan itu dengan anak panah. Karena persenjataan yang sederhana, Mari Longa mengatur strategi untuk selalu berpindah tempat. Karena itu, selain Watu Nggere, Bhoasia juga dipakai tempat peghadangan pasukan Belanda. Strategi ini membuat serdadu Belanda kewalahan. Karena itu, Pembesar Belanda mengutus lagi seorang kurir menemui Mari Longa, agar mau berunding dengan Belanda. Tetapi Mari Longa menolak. Karena itu, pembesar Belanda di Ende sengaja menarik pasukannya dari Watu Nggere. Setelah itu Pembesar Belanda mengutus lagi seorang kurir menemui Mari Longa di Watu Nggere. Kepada kurir pembesar Belanda di Ende berpesan, bahwa Belanda ingin mengangkat Mari Longa sebagai Raja Watu Nggere. Sedang batas-batas wilayah kekuasaan Mari Longa, akan dibicarakan dalam perundingan di Ende. Atas saran anak buahnya, Mari Longa akhir bersedia berunding dengan Belanda. Mari Longa minta agar selama perundingan, ia tidak ditangkap dan tidak ada penyerangan terhadap anak buahnya, meski mereka berada di Ende. Belanda pun setuju. Hari perundingan disepakati.


Pembesar Belanda di Ende, kemudian mengangkat Mari Longa sebagai raja Watu Nggere, dengan batas kekuasaan, bagian timur dengan Ende Mbawe, bagian barat dengan Watu Bara, bagian utara dengan Laut Flores dan bagian selatan dengan tanah Lise dan Mbuli. Selain itu, pembesar Belanda menghadiahkan Mari Longa dua pasang emas bergambar kuda dan tekukur. Sedangkan Mari Longa membuat sebuah tugu perjanjian dan memberikan seokor kuda belang kepada pembesar Belanda. Acara serah terima hadiah itu disusul pula dengan permintaan dari Mari Longa. Mari Longa minta Belanda agar tidak bertindak semena-mena kepada masyarakat di Detu Soko, Wolo Gai, Pe’i Benga, Lewa Gere dan kampung – kampung lainnya.
Awalnya Belanda patuh pada apa yang telah disepakati. Tetapi setelah bala bantuan dari Kupang dan Batavia tiba di Ende, serdadu Belanda kembali menyiksa penduduk yang tidak bersalah. Mari Longa marah. Karena itu, dia menggalang kekuatan untuk menghadang Belanda. Mari Longa yakin, Belanda akan datang di Watu Nggere. Penduduk Detu Soko, Wolo Gai, Pe’i Benga, Muku Reku, Kanga Nara disiksa. Sebagian bersembunyi di hutan dan menyampaikan ke Mari Longa. Di Kampung Lewa Gere, penduduk sempat memberontak atas sikap kejam Belanda. Tetapi, mereka kemudian lari ke hutan dan bersembunyi, sebagian lagi tewas di aniaya Belanda. Dari Lewa Gere, Serdadu Belanda dengan persenjataan yang modern, terus merangsek Watu Nggere. Mari Longa dan anak buahnya terdesak dan meninggalkan Watu Nggere. Kampung itu pun dibakar. Dalam kondisi terdesak, Mari Longa memberi perlawan seadanya. Namun tidak sedikit pula serdadu Belanda yang terkena anak panah dan tewas. Mari Longa berprinsip “ Ule A mite la’e bara, kai la’e welu seki sue. Seki sue wari leja iwa peto iwa gega (ngenga).” Artinya selama burung gagak belum berubah warna jadi putih, Mari Longa tidak akan melepaskan golok/ pedang bergagangkan gading. Karena gagang gading itu tidak akan retak sekalipun dijemur di matahari. Setelah beberapa hari berperang, Mari Longa menarik anak buahnya ke Bhoasia untuk beristirahat, mengatur strategi penyerangan, menambah persenjataan dan makanan. Setelah semuanya dirasa cukup, Mari Longa kembali menyerang serdadu Belanda yang sudah menguasai Watu Nggere dan beberapa kampung lainnya. Dalam penyerangan ini, serdadu Belanda terdesak dan meninggalkan Watu Nggere.


       E. Membangun Benteng


Mari Longa menyusun kekuatan baru. Anak buahnya yang ada di beberapa kampung seperti Detu Soko, Wolo Gai, Pe’I Benga, diminta selalu member informasi ke Watu Nggere, tentang pergerakan serdadu Belanda. Selain itu, di sepanjang jalan sekitar satu kilo meter sebelum masuk kampung Watu Nggere, telah dipasang anak panah otomatis.
Beberapa hari kemudian, puluhan serdadu Belanda dipimpin Controleur Couverear, menggempur Watu Nggere. Belum sampai di kampung Watu Nggere, serdadu Belanda sudah diserang anak panah otomatis buatan Mari Longa dan anak buahnya. Betapa terkejutnya Controleur Couverear. Dia kemudian perintah anak buahnya membalas serangan itu dengan menembak ke arah datangnya senjata otomatis tersebut.


Serdadu Belanda yang menyusuri jalan masuk itu tidak luput dari anak panah otomatis dan jatuh bersimbah darah. Sebagian serdadu yang mengejar Mari Longa dan anak buahnya di hutan justru dihadang senjata rahasia buatan Mari Longa dan anak buahnya. Melihat banyak serdadunya yang tewas, Controleur Couverear menarik pasukannya kembali ke Ende.
Mari Longa kemudian mengatur strategi baru. Dia merasa strategi perang gerilia yang diterapkan selama ini sudah diketahui serdadu Belanda. Mari Longa rupanya tidak ingin keluar masuk hutan. Muncul gagasan untuk membangun sebuah benteng pertahanan, atau dalam bahasa Lio disebut Potu. Karena itu, Mari Longa dan anak buahnya mulai membangun benteng tersebut. Benteng dibangun dalam 7 lapis atau bagian. Bagian pertama atau bagian dalam disusun batu-batu besar. Bagian kedua, diisi tanah. Bagian ketiga ditanami bambu berisi air. Bagian ke empat berisi bongkahan tanah, bagian ke lima ditanami kayu deo, bagian keenam disusun batu-batu besar dan bagian ke tujuh atau bagian paling luar ditanami bambu yang ujungnya sudah diruncing dan digantung onak dan duri.


Mari Longa kemudian meminta Kelly Nusa seorang anak buah kepercayaannya, untuk menghubungi anak buahnya di Detu Soko, Pe’i Benga, Muku Reku, Detu Nio dan Kanga Nara agar menghadang serdadu Belanda di kampungnya masing-masing. Di Detu Soko anak buah Mari Longa adalah Tani Fedho dan Sari Wara masing-masing dengan anak buahnya. Di Pe’I Benga ada Rega Nggumbe dan anak buahnya, di Muku Reku ada Renggo Fedho dan Lapi Lopi, dan anak buahnya. Di Detu Nio ada Sa Lopi dengan anak buahnya dan di Kanga Nara ada Laja Moja dan Pega Gai masing – masing dengan anak buahnya.


Setelah selesai membangun benteng, Mari Longa mengundang anak buahnya dari Detu Soko, Pe’i Benga, Muku Reku, Detu Nio, Kanga Nara dan beberapa kampung lain untuk mengatur strategi perang, sekaligus meresmikan benteng. Acara peresmian benteng diwarnai dengan tarian gawi atau tandak dan tarian Ha’I Nggaja.


Dalam suasana gembira, Mari Longa meminta para lelaki di Watu Nggere dan kampung-kampung terdekat lainnya untuk membuat anak panah dan senjata sebanyak mungkin. Sedangkan yang perempuan diminta mengumpulkan makanan. Senjata dan makanan itu disimpan di benteng. Sementara Tani Fedho dan Sari Wara, Rega Nggumbe, Renggo Fedho dan Lapi Lopi, Sa Lopi , Laja Moja dan Pega Gai pulang ke kampung mereka masing-masing, agar menghadang serdadu Belanda di kampung masing-masing. Penghadangan harus dilakukan mulai dari Detu Soko. Sementara di sepanjang jalan sebelum masuk Watu Nggere, dipasang anak panah otomatis, sementara di hutan-hutan di seputaran Watu Nggere juga dipasang senjata rahasia. Malam harinya, masyarakat di Watu Nggere menari tandak (Gawi). Kemudian Mari Longa menari Woge, yang diikuti dengan Bhea (deklamasi). Demikian isi deklamasi (Bhea Mari Longa).



Mari Ana Longa, Mamo Rowa Embu Ndota
Iwa Ta’u Iwa Paru, Wela Iwa welu, Pu’u ra ria
Laki tana eo jie, watu eo pawe
Mari Kaju Ba’i mimi goma,
Ana mbendi topo ata bara doga
Ata bara lu le, kala ebe ngere ke
Ata bara ndindo ndando, rago ebe ngere lako
Wela …. Wela ebe ma’e welu du nuwa embu
Pana…. Pana ebe ma’e pa’a du nuwa ana
Bu… kita ma’e rina, ngala kita ma’e ba
Toko kita leka watu, tuka kita leka tana
Bo….. ebe mena…. Bo…. Ebe ghale
Bo… ebe ghele… bo…. Ebe ghawa
Miu wiwi ma’e langga lema mae lo
Lando leka aku Mari Su’u
Wuli leka aku Mari Wangga
Poke re’e…., wela meta ….
Nia bina…. Mata dara….


Semua orang menonton Mari Longa menari dan mendengar Mari Longa Bhea. Usai Bhea (deklamasi), Mari Longa menyampaikan sesuatu tentang mimpinya. Dia mengatakan, bahwa Matahari dan Bulan telah mengajaknya pergi ke Kelimutu dan banyak orang yang mengikuti dia ke Kelimutu. Orang yang mendengar merasa sedih. Mereka sepertinya sudah merasa bahwa kali ini Mari Longa akan kalah. Beberapa saat kemudian, sebuah benda berbentuk bulat turun dari langit yang disusul dengan Guntur dan kilat. Orang-orang yang melihat benda itu menjadi takut. Namun Mari Longa menyambut benda itu. Dalam situasi cemas, Mari Longa mengajak warga dan anak buahnya menari tandak (gawi).


Ditengah keramaian gawi (tandak), Kelly Nusa menerima utusan Belanda. Utusan itu ingin menyampaikan pesan dari pembesar Belanda di Ende untuk Mari Longa. Kely Nusa menghadap Mari Longa dan menyampaikan makasud kedatangan utusan Belanda itu. Suasana saat itu sangat tegang. Warga dan anak buah Mari Longa tak berkedip menatap utusan Belanda itu. Utusan Belanda itu mengatakan kepada Mari Longa bahwa Serdadu Belanda akan segera mengepung Watu Nggere jika Mari Longa tidak mau berunding. Mari Longa tidak menggubris. Dia mengatakan apapun yang akan terjadi mereka tidak akan berunding dengan Belanda. Sebab kalau berunding berarti menyerah. Mari Longa sudah beberapa kali berunding tetapi Belanda selalu ingkar.


Setelah utusan Belanda itu pulang, Mari Longa dan seluruh warga serta anak buahnya menuju Tubu Musu Mase di tengah K(h)anga . Mereka membawa berbagai senjata. Senjata-senjata itu dikumpulkan di tubu musu. Upacara adat ra ana mbendi sekaligus penyerahan kepada Dua Lulu Wula Ngga’e Wena Tana segera dilaksanakan. Kepada Dua Lulu Wula Ngga’e Wena Tana, Mari Loinga memohon kekuatan :



Mbeja leka miu embu mamo ku kajo
Kami kira iwa kelo, leku iwa ngadho
Pu’u miu jaga,
kami mbana leka jala eo masa,
soso leka wolo eo molo
Nebu ina, ata bara mo mbou ria rama bewa kami
Pati sai kami ola negi sama ngere kusi mbendi
Pati sai kami ola meno ngere kao kebo
Kami we tu’a ngere su’a,
Kami we maku ngere watu


Setelah upacara adat, mereka semua menuju ke benteng. Mari Longa dan beberapa anak buahnya berdiri di luar benteng. Sedangkan Weti, Bunga dan Nduru berdada di pintu gerbang benteng. Sebagian anak buah Mari Longa berjaga di sekeliling Watu Nggere dengan anak panah. Sementara di dalam benteng ada beberapa anak buah Mari Longa yang siap mensuplai senjata kepada yang lainnya.


Berselang beberapa saat terdengar suara tembakan, semakin lama semakin dekat dengan benteng. Mari Longa dan anak buahnya semakin terdesak. Mereka mundur ke arah benteng. Anak buah Mari Longa yang lain masih terus memberi perlawanan. Mari Longa memerintahkan anak buahnya untuk masuk ke benteng. Banyak anak buah Mari Longa yang terkena tembakan, termasuk Kelly Nusa. Serdadu Belanda terus menyerang benteng. Serdadu Belanda yang ada di luar benteng mengejek Mari Longa. Bahwa yang di dalam benteng hanya perempuan. Serdadu Belanda juga tidak yakin kalau Mari Longa kebal senjata. Mereka meminta Mari Longa tunjukkan bukti kalo memang dia kebal senjata. Ejekan Serdadu Belanda ini membuat Mari Longa terpancing emosi. Mari Longa pun keluar benteng. Peluru serdadu Belanda menyambutnya namun tidak satupun yang bersarang. Mari Longa membantai serdadu Belanda. Sebagian serdadu digiring ke benteng dan dibantai anak buah Mari Longa.

Letnan Jefry yang memimpin penyerbuan itu, ikut memanasi Mari Longa. Dia minta Mari Longa berduel tanpa senjata. Mari Longa pun keluar dari benteng diikuti Weti, Bunga dan beberapa anak buahnya. Hujan peluru meluncur ke tubuh Mari Longa. Mari Longa menyambutnya dengan menari sambil mengejek Letnan Jefry. Saat bersamaan terdengar suara gemuruh diikuti turunnya sebuah benda bundar sebesar nyiru. Letnan Jefry langsung menembak benda bunda itu dan jatuh pencah berkeping ke tanah. Mari Longa mengambil pencahan benda bundar itu lalu menciumnya. Letnan Jefry meminta Mari Longa menyerah. Namun Mari Longa tidak menyerah. Dengan kekuatan seadanya, dia terus membantai serdadu Belanda. Letnan Jefry terus menembak Mari Longa hingga peluru habis. Perkelahian adu pedang pun tak terelakan lagi. Namun nasib sial menimpa Mari Longa. Pedangnya yang tertancap di tubuh seorang serdadu Belanda sulit dicabut. Letnan Jefry dengan cepat menghantam bagian belakang kepada Mari Longa dengan popor senjatanya. Dan seketika itu juga Mari Longa rubuh bersimbah darah ke tanah. Serdadu Belanda kemudian membelah dada Mari Longa dan ditemukan hatinya berbulu serta seekor lebah kuning.


Begitulah kisah perjuangan Mari Longa. Awalnya jasad Mari Longa tidak dikuburkan tetapi di simpan di pohon beringin. Saat ini, tulang belulang Mari Longa dikuburkan di dekat rumahnya di Watu Nggere. Bukti-bukti lain, seperti senjata (anak panah, pedang) masih disimpan cucu keturunan Mari Longa.


From: http://moniwoloara.blogspot.com/2011/12/mengintip-jejak-perjuangan-mari-longa.html


Sunday, January 8, 2017

Riwu Ga (antara Soekarno, Pemuda Flores, dan Kemerdekaan RI)


Pada tahun 1934 saat Bung Karno baru saja sampai di tempat pembuangannya di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Ada seorang muda yang senang melihat kedatangan orang buangan dari Jawa. Anak berumur 14 tahun itu bernama Riwu Ga. Ia setiap pagi berjalan 3 kilometer untuk menonton orang dari Jawa yang katanya terkenal.

Suatu siang saat Bung Karno sedang mengerjakan potongan kayu untuk ganjel pintu, Riwu Ga datang membawa pisang dan bertanya-tanya pada Sukarno tentang caranya membuat potongan kayu.

Sukarno adalah seorang Insinyur, tapi ia selalu bicara dengan bahasa yang dimengerti oleh lawan bicaranya, dan Sukarno senang dengan anak ini yang selalu banyak ingin tau. Saat itu jam 10 pagi, Sukarno dan Riwu bicara sampai sore hari. Akhirnya Sukarno meminta Riwu membantu di rumahnya, banyak juga pemuda Flores membantu di rumah Sukarno.
Riwu Ga

Riwu ikut maen Tonil dan membenahi baju-baju pemain Tonil sambil belajar lagu Indonesia Raya dengan caranya yang gembira.

Tonil adalah suatu seni mirip sandiwara yang dipentaskan setiap sebulan sekali oleh Sukarno.

Riwu juga sangat senang dan melompat-lompat sambil tertawa ketika Bung Karno melawak dan menceritakan hal-hal yang seru.

Begitu akrab dan asyiknya Bung Karno, Riwu dan para pemuda Flores dikala itu, seakan beban yang sangat berat yang dipikul dipundaknya, seketika hilang, beralih suka cita dan riang gembira.

Rencana Sukarno Akan “Dibuang” oleh Belanda ke Australia


Tahun 1942 Jepang datang ke Indonesia, dan Bung Karno telah direncanakan akan dibawa ke Australia oleh Belanda dengan alasan untuk menyelamatkan jiwa Sukarno.
Pesawat yang akan mengangkut Bung Karno pun telah disiapkan. Tapi saat di pinggir pesawat Riwu minta ikut, Bung Karno memaksa Belanda agar Riwu ikut ke Australia, tapi Belanda menolak.

Bung Karno juga menolak bila Riwu tidak diajak, jadilah Bung Karno tidak diajak ke Australia. Sejarah Indonesia akan berubah total andai Riwu tidak memaksa dirinya ikut….

Sukarno “Dibuang” ke Bengkulu

Saat Sukarno dibuang ke Bengkulu dan berjalan kaki di tengah hutan lebat, Inggit, Sukarno dan Riwu menuju Kota Padang. Di Padang mereka tinggal di kota itu beberapa bulan sebelum akhirnya Sukarno tiba kembali di Djakarta bersama Riwu yang setia mengikutinya.

Riwu adalah pembantu kesayangan Sukarno dan Ibu Inggit. Saat teks Proklamasi 1945 dibacakan dan Fatmawati isteri baru Sukarno berada di samping Bung Karno ketika akan membacakan Proklamasi, mata Riwu berkaca-kaca dalam hatinya berteriak :
“Mustinya Ibu Inggit yang disana, mustinya Ibu Inggit yang berdiri di bawah kibaran merah putih, karena Inggitlah yang tau susah dan jerih payah Sukarno,” bisik Riwu dalam hatinya.
Beberapa jam setelah Proklamasi, Sukarno memanggil Riwu dan menyuruh untuk mengabarkan seantero Djakarta sudah merdeka. Riwu mencari mobil Jeep dan diajaknya seorang bernama Sarwoko yang menyetir.
Di tengah jalan Riwu berteriak “Merdeka…Merdeka…Merdeka!!!!!!!” sambil mengepalkan tangan keras-keras.
Sepanjang perjalanan, orang-orang bingung sekaligus heran melihat kelakuan Riwu. Namun akhirnya paham, masyarakat akhirnya tahu kalau Sukarno sudah memerdekakan Republik ini.

Siapa diantara anda yang mengenal Riwu? Di hari tuanya, ia kembali ke desanya, hanya memacul tanah tandus di Flores.

Riwu tak seperti pejabat yang dengan mobil mewah ke Istana berikut dengan jas berharga puluhan juta Rupiah, menghormat pada bendera Indonesia Raya.

Ia hanya orang tua yang rapuh dan ia tidak pernah diundang ke Istana saeumur hidupnya, karena mungkin saja bau dekil dan baju kotor tak pantas bagi Istana yang megah. Tapi tanpa Riwu, bisa jadi kita tak mengenal Indonesia seperti apa yang kita kenal sekarang. (oleh: Anton DH Nugrahanto)



Riwu Ga, pemuda NTT yang jasa besarnya terlupakan
Riwu Ga, pria asal Sabu, Nusa Tenggara Timur ini, namanya seperti dipeti-eskan bila kita membicarakan proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945.
Namanya benar-benar dilupakan dan dikuburkan dalam-dalam. Dia memang tidak berperang secara fisik mempertahankan negara. Juga dia tidak melakukan diplomasi di luar negeri membela keberadaan negaranya dengan argumentasi tajam.

Riwu Ga juga bukan seorang menteri atau pejabat yang punya kekuasaan yuridiksi untuk berbicara dan melakukan tugasnya sebagai seorang orang penting yang sedang mempertahankan kemerdekaan negaranya.

Jauh sebelum negaranya lahir tanggal 17 Agustus 1945, Riwu Ga seperti sudah ditakdirkan untuk selalu berperan dan berhubungan dengan hari yang tidak pernah akan dilupakan oleh setiap orang Indonesia itu.
Bila Ibu Inggit Garnasih, istri Soekarno, dijuluki banyak orang sebagai sosok wanita yang mengantarkan Soekarno ke gerbang kemerdekaan 17 Agustus 1945, maka Riwu Ga-lah orang yang menjaga kunci gerbang itu agar tidak hilang, sehingga bisa dibuka oleh Soekarno bersama patriot-patriot sejati lainnya.

Diperebutkan oleh Inggit dan Sukarno

Pada usia 18 tahun di tahun 1934 Riwu Ga berkenalan pertama kali oleh Soekarno di Ende, Flores, semasa menjalani pengasingannya oleh pemerintah kolonial Belanda. Sikapnya yang rendah hati dan penuh kepatuhan pada peraturan dan etika, membuat dia dipercaya Soekarno dan disayang oleh keluarga besar proklamator itu, baik oleh pihak Ibu Inggit maupun oleh Ibu Fatmawati.

Sebelum Soekarno shalat shubuh selama di Ende, Riwu Ga bangun lebih dulu dan mempersiapkan segelas air putih dicampur kapur. “Biar suara Bung Karno lebih menggelegar”, katanya.

Ketika Soekarno dipindahkan ke Bengkulu, dia diikutsertakan bahkan sampai berakhir masa pembuangan dan Indonesia merdeka, Riwu Ga tetap mengabdi kepada keluarga Soekarno.

Dia juga dijadikan harta yang diperebutkan oleh Inggit dan Soekarno ketika pasangan itu bercerai. Riwu Ga berat hati memilih ikut Soekarno, meski Inggit tetap menyayanginya.

Setelah turut mempersiapkan upacara pembacaan proklamasi, Riwu Ga diperintahkan Soekarno untuk menyebarkan berita proklamasi kemerdekaan itu ke sekeliling Jakarta. Banyak rakyat Indonesia tidak tahu bahwa negera mereka sudah merdeka, karena kemerdekaan itu ditentang banyak pihak termasuk penguasa Jepang pada kala itu.
Berita pertama kali tentang Prokalamsi di suratkabar Merdeka, Feb 1946.
Riwu Ga termasuk orang pertama yang mengetahui Indonesia telah merdeka

Seperti diceritakan sebelumnya, bersama adik Mr. Sartono (kelak menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Agung pertama), yang bernama Sarwoko yang mengemudikan mobil jeep, Riwu Ga berteriak-teriak heroik mengumumkan kepada kumpulan rakyat sambil membawa bendera berah putih.
“Kita sudah merdeka, kita sudah merdeka!” Tindakannya sangat konyol dilakukan saat itu, karena bisa saja aparat keamanan tentara Jepang menembaknya sesuka hati.
Hasil tugas Riwu Ga itu membuat banyak rakyat Jakarta percaya bahwa Indonesia sudah merdeka. Berita proklamasi kemerdekaan Indonesia, mirip berita pendaratan Christopher Columbus ke Dunia Baru, yang baru diketahui oleh rakyat Eropa berbulan-bulan kemudian.

Memang ada yang mewartakan berita kemerdekaan RI secepat mungkin melalui medium elektronik berupa radio. Namun barang kotak bersuara itu sangat langka dimiliki oleh kebanyakan orang pada masa itu, dan kalaupun ada, isi beritanya sudah dikontrol penuh oleh penguasa Jepang.

Jusuf Ronodipuro juga menyiarkan berita kemerdekaan RI secara heroik melalui stasiun radio yang dikuasai Jepang. Juga di daerah-daerah pelosok, berita proklamasi disiarkan ulang, seperti di Sumatera oleh Mohammad Sjafe’i atau di Riau oleh Angkatan Muda Perusahaan Telefon dan Telegraf beberapa minggu setelah 17 Agustus 1945.

Riwu Ga (bersama Sarwoko) adalah orang yang pertama kali menyiarkan berita proklamasi kemerdekaan secara langsung kepada rakyat Indonesia. Selama tahun 1945 tidak ada berita apapun di surat kabar manapun tentang proklamasi kemerdekaan. Keadaan ini memang aneh tetapi bisa dimengerti mengingat keadaan masa itu yang kritis.

Meninggal tepat tanggal 17 Agustus 1996, pukul 17.00 Wita

Riwu Ga memang tinggal kenangan. Dia sepenggal sejarah yang kini terhempas jauh dari hiruk pikuk kemerdekaan. Menjadi yang tak diperhitungkan bangsa, konsekuensi dari seorang Riwu Ga. Keringat dan darahnya melayani bangsa terhapus carut marut birokrasi

Matahari tepat di atas ubun-ubun, ketika saya berkunjung ke sebuah rumah dibilangan kelurahan Naikoten I, Kota Kupang. Atapnya pendek, sehingga untuk masuk ke dalam, harus sedikit jongkok.
“Rumah ini dibangun oleh almarhum ayah saya. Dia bangun rumah ini sekembalinya dari Jakarta, tahun 1948,” ujar Yance Riwu Ga, salah seorang putra Riwu Ga, ketika ditemui di rumah mereka, di Jl. Advokat No 4 RT 15/RW 6 Kelurahan Naikoten 1, Kecamatan Kota Raja, Kupang, Selasa (14/8/2012) lalu.
“Rumah ini sederhana, walau atapnya rendah, namun tidak panas. Apalagi kalau buka pintu belakang, angin banyak yang masuk sehingga rumah ini dingin,” tuturnya lagi.


Riwu Ga (kiri) bersama anaknya, Yance Riwu Ga (kanan).

Dia mengurai, sebagai satu dari delapan anak Riwu Ga, mereka sering diceritakan oleh ayahnya tentang kisah perjuangannya bersama Bung Karno baik itu di Ende lokasi pengasingan Soekarno maupun di Jakarta.

“Kami dengar banyak cerita. Mulai dari masa pembuangan, hingga kemerdekaan. Kami sangat bangga pada ayah kami. Malah, ketika hendak dibuang ke Australia, Bung Karno tidak mau jalan kalau Riwu Ga tidak dibawa.”

Sayang, di masa tuanya, garis tangan majikan dan pembantu itu berbeda. Sukarno menjadi presiden, dan Riwu Ga justru menjadi seorang penjaga malam pada kantor Dinas PU Kabupaten Ende hingga pensiun pada tahun 1974.
“Tapi kami bangga pada bapa,” ungkap Yance. Di usia senjanya, Riwu memang menghilang dari panggung gemerlap kemerdekaan. Dia menyingkir jauh, hingga ke Naikoten, Kota Kupang, kemudian ke Nunkurus di Kabupaten Kupang tahun 1992.
Di Kupang, Riwu hanya beberapa tahun, kemudian bersama isterinya Belandina Riwu Ga-Kana pun meniti hidup sebagai petani di Nunkurus, tepat di sebuah area pertanian yang dipadati gewang dan jati, di depan markas TNI Naibonat.
“Di sana bapa dan mama menetap selama beberapa waktu, hingga bapa sakit dan dirawat di RSU Kupang selama hampir dua minggu. Dia dirawat di ruang kelas tiga. Sakitnya sakit orang tua, bapa mengeluh ada sakit di bagian perut,” ungkap Yance polos.
Takdir berkata lain. Tepat pukul 17.00 Wita, di hari kemerdekaan RI, 17 Agustus 1996, ketika masyarakat Indonesia sedang menyanyikan lagu Indonesia Raya, dalam prosesi penurunan bendera, Riwu Ga meninggal dunia.

Takdir berkata, bahwa Riwu memang harus menutup matanya ketika Merah Putih benar-benar sudah diturunkan oleh pasukan pengibar, untuk disimpan. Jenazahnya lalu dimakamkan di TPU Kapadala, Kelurahan Airnona, Kecamatan Kota Raja, Kupang pada 19 Agustus.

“Saat itu hadir ribuan orang. mereka ingin datang dan mendengar langsung kisah bapa. Sebagai anak, ketika dengar cerita bapa, kami terharu dan bangga. Karena seorang buta huruf, dia berarti. Walau tidak diingat jasa-jasanya. Dia kelahiran Sabu, tapi dia sudah banyak berbuat untuk Indonesia,” ujar Yance yang adalah pengajar di SMPN 2 Kupang itu sembari menyeka bulir air mata di sudut matanya mengenang ayahandanya.

Hingga saat ini, isterinya yang sudah berusia 70 tahun lebih itu masih menempati rumah mereka di Nunkurus.
Diusulkan menjadi Pahlawan Nasional

Sejumlah pertanyaan singgah di benak. Mengapa Riwu Ga tidak mendapatkan jabatan yang tinggi, padahal dia sangat dekat dan berjuang bersama Bung Karno?

Menjadi pengawal pribadi selama 14 tahun, fakta membuktikan bahwa Bung Karno pun membutuhkan pikiran Riwu dalam membangun fondasi sebuah negara yang masih dalam mimpi, di Ende, sebuah kota di NTT yang jauh dari Jakarta.

Riwu kini tinggal sebuah kisah. Kisah Riwu pernah melayani tokoh terbesar sepanjang sejarah Indonesia itu. Kisah bahwa dia diajak Gadi Walu, sepupunya dari Sabu ke Ende untuk meniti hidup, kemudian tinggal bersama keluarga Bung Karno ketika dia sedang berjualan kue pisang goreng.

Selama 69 tahun merdeka, pemerintah kita sangat sibuk membenahi berbagai sektor, sehingga lupa memberi penghargaan pada mereka yang sudah bertaruh nyawa. Menyedihkan memang, ketika berada di tengah birokrasi yang menutup mata terhadap realita perjuangan kemerdekaan.

“Pemerintah harusnya proaktif. Ini masalahnya. Hal-hal seperti itu, Pemda harus bergerak cepat dan berbuat sesuatu bagi pejuang,” ujar Peter A. Rohi, kepada Timor Express, Rabu (15/8/2012) lalu dari Jakarta.

Pernyataan senada disampaikan Pembina Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) NTT, Irjen Pol (Purn) Y. Jacky Uly. mantan Kapolda NTT mengurai, dalam sejarah perjuangan dan di veteran, ada dua jenis pejuang.

Yakni pejuang kemerdekaan, dan dia mencontohkan, sosok yang masuk kategori ini seperti Riwu Ga. Walau tidak angkat senjata, namun dia berada sangat dekat, dan malah terjun dalam mengisi perjuangan kemerdekaan.

Berikutnya, adalah pejuang pembela kemerdekaan, seperti pejuang yang terlibat dalam operasi Trikora, Dwikora dan beberapa lainnya.

“Saya minta, kita jangan berpikir sempit bahwa yang namanya pejuang itu adalah mereka yang mengangkat senjata. Tidak begitu,” tegasnya lagi.

Pahlawan-pahlawan asal Nusa Tenggara Timur

Penulis senior yang menemukan file yang tersembunyi mengenai Riwu Ga itu menuturkan, banyak sejarah yang justru digali oleh orang lain dibanding pemerintah, baik itu Pemkab/Kota maupun Pemprov NTT.

“Padahal banyak tokoh pejuang kemerdekaan itu berasal dari NTT. Mereka berjuang diluar atau pada level nasional, namun tak pernah diangkat oleh pemerintah kita. Pemerintah hanya mengenal mereka ketika mereka pulang ke NTT, namun sebenarnya ada banyak yang sudah dilupakan,” ungkapnya.

Dia mencontohkan, adalah Alexander Abineno, orang Amarasi yang jasanya tak pernah dilupakan karena dialah salah satu pendiri TNI Angkatan Laut. Kisahnya menurut Peter, bermula dari Alexander merebut kapal perang musuh, kemudian kapal perang penjajah itu menjadi kapal perang pertama milik Indonesia yang disandarkan di Pelabuhan Tanjung Priok. Ada pula I.R Lobo, anggota KNIP yang menjadi pendiri Kota Semarang dan pendiri Direktorat Bea dan Cukai.

“Pemda NTT harus kreatif mencari data dan fakta, lalu mengusulkan tokoh-tokoh ini menjadi pahlawan. Jika dibanding dengan daerah lain, mereka mengusulkan banyak tokoh mereka, sedangkan kita tidak pernah. Sebenarnya Departemen Sosial hanya menunggu usulan kita saja, namun kita tak pernah, tidak mungkin Pemda DKI yang usulkan. Harus kita,” Peter Riwu menambahkan.

Minimnya perhatian pemerintah untuk mengusulkan tokoh-tokoh pejuangnya menjadi pahlawan pun disoroti tokoh yang pernah menjadi pimpinan polisi puluhan negara di dunia dalam operasi PBB di Afrika itu.

Indonesia menurutnya, juga memiliki perhatian yang tak begitu maksimal terhadap pahlawan. Dia membandingkan dengan Amerika dan Australia. Di dua negara itu, ada hari khusus yang ditetapkan untuk mengenang para veteran perang, dan semua aktivitas diliburkan.

“Karena itu, saya minta kepada pemerintah Provinsi NTT untuk jangan menutup mata terhadap para pejuang kita. Riwu Ga dan beberapa tokoh lainnya sudah saatnya diusulkan menjadi pahlawan nasional. Harus segera diusulkan. Kumpulkan data dan fakta, kemudian ajukan,” pungkasnya.
Selain Riwu Ga, Abineno, Lobo, ada juga Mone Kana. Sosok inilah yang membunuh Jenderal Portugal Dominggus da Costa di Penfui (kini lanud El Tari). Tewasnya Da Costa menjadi simbol kekalahan Portugal di Nusa Tenggara.
Masyarakat lalu memuja Mone Kana sebagai pahlawan gagah berani. Tak hanya itu, banyak orang Sabu dan Rote yang terlibat dalam pergerakan nasional. Sejumlah referensi menulis, pemberontakan “Kapal Tujuh” (Seven Provinscien Affair, 4 Februari 1933), setahun sebelum Bung Karno dibuang ke Ende, seorang pemimpin pemberontakan itu adalah Hendrik Pa Raja (kini namanya diabadikan pd sebuah jalan di wilayah Kelurahan Namosain-Alak, yakni Jl. Pa Raja).

Dia memimpin Johanes Rihidima, Ande Therik, Harsoyo, orang Jawa kelahiran Kupang untuk melawan angkatan Laut Belanda. Selain itu, ada pula sejumlah tokoh NTT yang berkiprah dalam perjuangan kemerdekaan di Jakarta seperti E.R Herewila, Tom Pello, H.A Koroh, I.H Doko, El Tari, Tjak Malada, Cornelis Dimu Djami, A. Nisnoni, Engelbertus Daniel Johannes, Amos Pah dan beberapa nama lainnya.

Fakta-fakta ini pertama kali saya tahu, ketika membaca sebuah feature di harian Kompas 15 tahun silam, yang memuat profil Riwu Ga dengan jelas dan mencoba mengukuhkan perannya yang kecil bak sekrup dalam sebuah mesin penggerak yang bernama proklamasi.

Namun tanpa sekrup kecil itu, mesin besar bisa saja tak akan bergerak. Inilah yang membuat alasan saya untuk mengingatkan kembali perannya yang memang pantas dilupakan oleh kita, bangsa pelupa



Friday, January 6, 2017

Bung Karno di Ende part 7 (Kumpulan Video) bonus

Soekarno dan Ibu Inggit (Rumah Ende)

Soekarno dan Ibu Inggit bersama Kelimoetoe Toneel Club


kumpulan video: 

1. Jejak Nasionalisme di ende
  



2. Soekarno di Ende



Thursday, December 29, 2016

Bung Karno di Ende part 6 (Tempat Kesukaan Sang Proklamator)


            Akrab: Bung Karno sedang berbincang dengan Pater G. Huijtink SVD (berjenggot) dan Pater A. Tiyssen SVD   
            Selama masa pengasingannya di Pulau Bunga, Soekarno telah merajut beragam pengalaman bersama masyarakat Ende. Kenangan-kenangan ini tetap menjadi kebanggaan masyarakat Ende sampai sekarang.

Sungai Wolowona    

            Sungai ini merupakan tempat kesukaan Soekarno. Selain sebagai tempat bersenang-senang dengan sahabat-sahabatnya, Soekarno juga sering mandi di sungai ini. Tempat itu disebut Rende Wae, sekitar sepuluh kilometer dari tempat tinggal Soekarno. Apabila berada di tepi sungai, Soekarno menjauh beberapa puluh meter dari para pengikutnya untuk mencari kolam yang aman di balik batu besar.

            Salah seorang pengikutnya, Hamid Dhepi, yang di kemudian hari menjadi Kepala Desa Rewarangga, menuturkan bahwa seekor burung rajawali besar dengan suara melengking terbang dari hulu, lalu bertengger di atas batu di dekat Soekarno mandi. Para pengikut Soekarno tahu, jika rajawali itu terbang kembali ke udara lalu menghilang; itu pertanda Soekarno sudah selesai mandi. Lalu, mereka bersiap-siap kembali ke Ende.       

Perpustakaan Para Pastor  

            Di Ende, Soekarno dikenal sebagai pribadi yang luwes dan terbuka. Sikap inilah yang menjadi kekuatannya dalam membangun relasi dengan masyarakat Ende, termasuk dengan para pastor. Soekarno bisa menggunakan perpustakaan para pastor kapan saja. Di perpustakaan inilah, Soekarno mengakses banyak pengetahuan.

Bengkel Santo Yosef

            Bengkel kayu ini milik Serikat Sabda Allah (SVD) yang dikelola oleh Bruder Lambert dan Bruder Cherubim. Di bengkel ini, Soekarno menyiapkan segala perlengkapan sandiwara. Hampir setiap hari, Soekarno mendatangi tempat ini.

Pohon Sukun

            Di Ende, Soekarno kerap merenung di bawah pohon sukun di pinggir laut. Sementara duduk-duduk di bawah pohon sukun, gagasan Soekarno tentang dasar-dasar kemerdekaan Indonesia memperoleh bentuknya, yang kemudian dipakainya sebagai falsafah Negara Indonesia pada 1945. Menurut keterangan Soekarno sendiri, di bawah pohon sukun itulah, konsepsi Pancasila selesai dirumuskan.



Thursday, December 22, 2016

Bung Karno di Ende part 5 (2 Jejak Pancasila)


            Taman Pancasila: Patung Soekarno yang sedang duduk merenung di bawah pohon sukun, di Taman Pancasila atau Taman Rendo di Ende
Dari diskusi-diskusi Soekarno dengan para misionaris di Ende, muncul ide-ide yang kelak menghablur dalam Pancasila.       

            Dalam buku-buku resmi di mana Soekarno memberikan catatan tentang kehidupannya di Ende dalam masa pengasingan, interneering, hampir tidak ada satu kata pun tentang diskusi-diskusi dengan para pastor di Ende.   

            Namun, seperti sudah ditulis (lihat Soekarno, Ende, dan Kisah Persahabatan), Soekarno hanya bisa bergaul secara intelektual dengan para pastor di Biara St Josef.        

Para sahabat di Biara Santo Josef 

            Sangat bisa diduga bahwa pemahaman Soekarno tentang banyak hal termasuk agama-agama mondial seperti agama Kristen, Katolik, semakin dipertajam di Ende.          

            Tentang agama Protestan, Soekarno sering bertukar pikiran dengan Pendeta Georgette Manafe, orang Rote yang bersuamikan seorang Batak. Tentang agama Katolik, Soekarno memperoleh pengetahuan berlimpah-ruah dari para misionaris di Biara St Josef.       

            Selain penghuni Biara St Josef, seorang yang sering datang adalah Pater Johannes van der Hijden yang berperawakan tinggi besar yang selalu membawa buku-buku mutakhir untuk Soekarno.     

            Di sana juga ada pater yang masih muda belia Dr Van Stiphout yang baru saja datang dari Roma dan membawa cerita tentang Mussolini yang sangat dikagumi Soekarno. Mussolini dianggapnya sebagai reinkarnasi Garibaldi, nasionalis pendasar kesatuan Italia abad 19. Dari Pater van Stiphout, Soekarno mendengar pertama kali tentang ucapan khas Mussolini “Vivero pericoloso”, hidup berkalang bahaya, yang kelak dipakai kembali pada masa Demokrasi Terpimpin tahun 1960-an, TAVIP, Tahun Vivere Pericoloso.    

            Dengan demikian, di tengah kekosongan kaum cendekiawan Flores, Soekarno menemukan teman diskusi di kalangan para pastor itu, yang tentu saja berlangsung dalam bahasa Belanda.         

Biara St Josef dan Sila Keempat    

            Sebagian besar peneliti sejarah mengemukakan bahwa banyak ide yang kelak menghablur dalam Pancasila diperoleh Soekarno di dalam diskusi-diskusi ini. Untuk keperluan itu, penulis menemukan sekurang-kurangnya dua jejak yang bisa ditelusuri, yang berarti sumbangan dua sila dari Pancasila.  

            Pertama, dalam pergaulan itulah, Soekarno mengenal sosialisme Katolik yang dideklarasikan pada abad 19 dengan “manifesto ekonomi-politik” yang dikeluarkan Paus Leo XIII pada 1891 dalam ensiklik Rerum Novarum, masalah modern. Pandangan Rerum Novarum sangat sesuai dengan pemikiran ekonomi-politik Soekarno. Sikap yang ditunjukkan Rerum Novarum seperti menguliti kapitalisme dari sisi kelemahannya, malah penyakit kapitalisme modern yang harus dipangkas. Dalam tulisan-tulisan di Jawa, sebelum ke Ende, Soekarno menulis justru hal yang serupa itu.       

            Ketika Soekarno berada di Ende tahun 1934, hanya tiga tahun sebelumnya, 1931, keluar ensiklik baru Pius X, Quadragessimo Anno, untuk memperingati 40 tahun Rerum Novarum. Quadragessimo Anno merupakan suatu penegasan dan advokasi dari apa yang sudah dikatakan di sana. Kesamaan itu diduga berlangsung dalam paham keadilan sosial. Semuanya, menurut Rerum Novarum, berpangkal pada, dan dimulai dari, konsep tentang hak milik, ius proprietatis.           

            Rerum Novarum mengatakan, “Orang tidak boleh menganggap milik material sebagai miliknya sendiri, akan tetapi sesuatu yang bersama-sama bagi semua, sehingga membaginya tanpa ragu-ragu bilamana orang lain membutuhkannya.”

            Namun, menawarkan milik kolektif, paham komunisme Uni Soviet, adalah obat yang jauh lebih berbahaya dari penyakitnya. Dengan demikian, ada aspek sosial yang harus dipertimbangkan di samping aspek personal dan individual, ius dominii privati hominibus tributum. Semua paham ini menjadi dasar keadilan sosial baik yang dipahami ensiklik maupun paham Soekarno sendiri. 

            Ketika berpidato pada 1 Juni 1945, Soekarno mengatakan tentang sila keempat: “... marilah kita terima prinsip sociale rechtvaardigheid ini ...” Ucapan ini menarik karena hampir dalam semua sila, satu sampai tiga dan lima, ajakan Soekarno dibuat dalam bahasa Indonesia, kecuali sila keempat yang langsung dalam bahasa Belanda. Dari sini sebetulnya bisa dilacak bahasa yang sangat mirip dengan bahasa Quadragessimo Anno, yaitu iustitia socialis.           

Biara Santo Josef dan Sila Kelima 

            Yang kedua adalah diskusi-diskusi masalah agama karena Soekarno tidak menolak agama di dalam negara yang dirancangnya. Dalam salah satu diskusi tersebut, muncul pertanyaan dari para pastor itu yang kira-kira sebagai berikut: “Di dalam negara yang Tuan rancang itu di mana tempat mamamu, yang beragama Hindu? Di mana tempat Flores, yang beragama Katolik?”       

            Pertanyaan sederhana itu sangat mendasar, dan dilontarkan di luar dugaan Soekarno. Semuanya dijawab Soekarno bahwa tidak ada perbedaan; semua diberi kesempatan tanpa ada diskriminasi satu terhadap yang lain. 

            Apa yang dikatakannya pada 1 Juni 1945: “Marilah kita di dalam Indonesia Merdeka yang kita susun ini ...menyatakan bahwa prinsip kelima dari pada Negara kita, ialah Ketuhanan yang berkebudayaan, Ketuhanan yang berbudi pekerti yang luhur, Ketuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain.”

            Inilah rumusan asli yang berasal dari Soekarno dengan “ketuhanan” menjadi sila kelima. Pada tahap-tahap berikutnya terjadi kompromi ketika “ketuhanan” dibuat menjadi sila pertama. Di sana hanya dikatakan “ketuhanan yang mahaesa”, sesuatu yang sama sekali tidak disebut Soekarno. Apalagi semua ucapan tambahan Soekarno dihilangkan.   

            Dalam rumusan asli Soekarno, dengan jelas dilihat toleransi agama Soekarno yang tiada tara.       

            Dengan demikian, sumbangan Ende dan para misionaris itu sangat besar. Soekarno pasti tidak akan mengemukakannya di depan umum, apalagi di depan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, tentang soal ini karena hanya akan menghasilkan serang balik yang tidak perlu.       

            Di pihak lain, kesan tentang Soekarno hidup mendalam di hati para misionaris itu. Sampai akhir hayatnya, Pater Bouma “tidak mau” mendengarkan “sesuatu yang buruk” tentang Soekarno. Pater van Stiphout selalu menganggap bahwa Soekarno adalah animalrationalissimum, binatang paling cerdas, yang pernah dijumpainya.